Selamat datang PARA PENGGILA BACA!


Ini adalah blog nirlaba yang memuat puisi, prosa, dan naskah drama pribadi maupun penulis terkenal nasional dan internasional. Secara pribadi saya mengharapkan apresiasi dari saudara sekalian. Jadi nikmatilah.... Terimakasih!

Lidah memang tajam, namun Pena dapat mengabadikan!

(Dwi Suprabowo)

Blog ini memang sengaja dipasang program untuk tidak dapat menyalin (Copy) dengan maksud agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki etika jurnalistik. Jadi, jika ingin menyalin atau bahkan membutuhkan tulisan di dalam blog ini dapat menghubungi saya sebagai adminnya.


Salam Budaya!

.............................

Kamis, 16 Juni 2011

Kelemahan Bahasa


KELEMAHAN BAHASA
Oleh: Dwi Suprabowo

Bahasa adalah salah satu alat atau teks berkomunikasi manusia. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sering dipergunakan untuk berkomunikasi, dan karena itulah bahasa yang merupakan teks dapat berkembang seiring dengan perkembangan waktu dan zaman. Sifat bahasa ini disebut dengan diakronis. Bahasa sebagai alat berkomunikasi memiliki kelebihan dibanding dengan alat atau teks komunikasi lainnya, antara lain: dapat membantu manusia mengejawantahkan pikiran dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran, membantu menggambarkan realitas, membantu mengungkapkan  perasaan dan pikiran kepada orang lain, membantu mengembangkan kebudayaan, membantu manusia untuk berpikir secara rumit (abstrak) dan sistematis (teratur), dan membantu manusia mentransformasikan objek faktual menjadi simbol abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata yang dirangkai oleh tata bahasa. Karena kelebihan inilah mengapa bahasa yang merupakan salah satu teks komunikasi dapat mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Meskipun bahasa sangat bermanfaat untuk berkomunikasi dibanding dengan teks lain, menurut Kinayati (2006:44), ada juga kelemahan bahasa yang menurut sebagian orang adalah kekayaan bahasa itu sendiri (kaum post-struktural), yaitu: vaguenes (kesamaran), ambiguity (ketaksaan), inexplicitness (tidak eksplisit), context dependent (tidak lepas dengan konteks), dan misleadingness (menyesatkan). Kelemahan bahasa inilah yang akan coba peneliti paparkan dalam tulisan ini.
Kesamaran bahasa bercirikan makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya, namun tidak mampu sepenuhnya “menghadirkan” objek realitas yang dimaksudkan itu. Sama halnya dengan mencoba menghadirkan warna air, maksudnya air minum tidak berwarna tetapi penghadiran objek realitasnya dengan mengucapkan air putih.
Ketaksaan bahasa biasanya muncul disaat pemakaian kata yang memiliki “ke-tidak-pasti-an” makna dari suatu ujaran. Ketaksaan ini bisa memunculkan tafsir makna lain dari dari kata atau struktur kata yang sudah memiliki makna.
Tidak eksplisitnya bahasa membuat bahasa sering tidak mampu mengungkapkan makna secara eksak, tepat, dan menyeluruh dalam menghadirkan gagasan yang dipresentasikannya. Kelemahan ini membuat ujaran bahasa tidak mampu membawa makna ke dalam permukaan tekstual (ujaran). Singkatnya bahasa tidak bisa memunculkan secara gamblang objek realitas tersebut hanya dengan menggunakan struktur bahasa itu sendiri.
Bahasa juga memiliki ketergantungan dengan konteks, sehingga suatu struktur bahasa yang sama dapat berubah makna atau arti sesuai dengan konteks gramatik yang dikomunikasikannya. Karena dalam kebahasaan sendiri konteks adalah “lahan” yang berada di luar struktur bahasa itu sendiri.
Kelemahan bahasa yang terakhir adalah menyesatkan, karena berkaitan dengan keberadaan bahasa dalam berkomunikasi pasti sedikit-banyak akan melahirkan kesalahan tafsir. Hal ini terjadi karena bertalian dengan kelemahan bahasa yang lainnya.
Dari kelemahan-kelemahan inilah peneliti mencoba menghadirkan satu sempel masalah yang dapat masuk dalam kelima poin kelemahan bahasa yang sudah terutai sebelumnya. Sempel ini berupa gambar poster yang sungguh menggelitik. Berikut adalah gambarnya:


 

Kesamaran bahasa dalam gambar di atas adalah pada unsur kalimat “Waduh.. TV-nya sampai panas..” pembangunan suasana panas itu sendiri tidak memiliki kepastian ukuran (suhu) teve itu sendiri. Kadar panasnya pun tidak ditentukan, sehingga apakah benar ukuran panas yang dimaksud benar-benar sesuai konvensi dan setandar panas pada umumnya atau hanya sebatas suhu teve tersebut sedikit berbeda dengan suhu teve yang tidak dinyalakan. Maksudnya kata “panas” itu tidak dapat mewakili objek realitas dari bentuk panas sesuai konvensi.
Ketaksaan unsur bahasanya terdapat pada kata “sampe” atau jika dalam ejaan yang sempurnanya “sampai”. Yaitu pengertian “sampai” dapat menghasilkan dua makna antara lainnya berarti ‘tiba’ dan ‘hingga’, tetapi makna yang muncul adalah ‘hingga’ karena tidak lepas dengan konteks pembicaraan. Ketaksaan ini terjadi karena berkaitan dengan kelemahan bahasa lain yang tidak bisa lepas dengan konteks.
Ketidak-ekplisitan bahasa pun muncul dalam gambar ini, yakni pada unsur kalimat “waduh.. TV-nya sampai panas.. kapan filmnya selesai sih..?” yang dipadukan dengan gambar televisi yang menyiarkan gambar cicak dan buaya dan terdapat tulisan “tragedi KPK dan Polri”. Kata “panas” dan “selesai” mengacu pada makna siaran teve tersebut yaitu berarti berita KPK dan Polri itu sedang panas (Hot atau berita hangat) dan mungkin pembuat gambar ini ingin kejelasan dan terselesaikannya kasus ini.
Kelemahan yang merupakan ketergantungan bahasa pada konteks juga muncul dalam berita ini, karena memang konteks adalah unsur inti dari pembicaraan. Kelemahan ini peneliti lihat muncul pada unsur kalimat “tragedi KPK dan Polri” karena kalau tidak ada peristiwa perseturuan antara KPK dan Polri kalimat tersebut hanya sebatas kata yang merujuk dua institusi saja, tidak mengandung arti apa-apa.
Kelemahan yang terakhir adalah menyesatkan, yang juga terpampang jelas dengan keberadaan teve dan kalimat “waduh.. TV-nya sampai panas.. kapan filmnya selesai sih..?”, karena kelemahan yang terakhir ini muncul karena sudah adanya kelemahan bahasa yang lain, semisal keterkaitan dengan konteks. Jika seseorang tidak mengerti konteks dari gambar di dalam teve, yaitu cicak dan buaya yang merupakan metafora dari dua institusi, pasti akan menganggap bahwa “Tragedi KPK dan Polri” memang merupakan sebuah judul film yang durasi pemutarannya panjang sehingga membuat teve-nya menjadi panas.
Jakarta, 2010

2 komentar:

mohon diapresiasi..

Terbaru